Do’a, Bacaan Al-Qur’an, Shadaqoh & Tahlil untuk Orang Mati

19 12 2007

Do’a, Bacaan Al-Qur’an, Shadaqoh & Tahlil untuk Orang Mati
02/04/2007

Apakah do’a, bacaan Al-Qur’an, tahlil dan shadaqoh itu pahalanya akan sampai kepada orang mati? Dalam hal ini ada segolongan yang yang berkata bahwa do’a, bacaan Al-Qur’an, tahlil dan shadaqoh tidak sampai pahalanya kepada orang mati dengan alasan dalilnya, sebagai berikut:

وَاَنْ لَيْسَ لِلْلاِءنْسنِ اِلاَّ مَاسَعَى

“Dan tidaklah bagi seseorang kecuali apa yang telah dia kerjakan”. (QS An-Najm 53: 39)

Juga hadits Nabi MUhammad SAW:

اِذَامَاتَ ابْنُ ادَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ اِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ اَوْعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ اَوْوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْلَهُ

“Apakah anak Adam mati, putuslah segala amal perbuatannya kecuali tiga perkara; shadaqoh jariyah, ilmu yang dimanfa’atkan, dan anak yang sholeh yang mendo’akan dia.”

Mereka sepertinya, hanya secara letterlezk (harfiyah) memahami kedua dalil di atas, tanpa menghubungkan dengan dalil-dalil lain. Sehingga kesimpulan yang mereka ambil, do’a, bacaan Al-Qur’an, shadaqoh dan tahlil tidak berguna bagi orang mati. Pemahaman itu bertentangan dengan banyak ayat dan hadits Rasulullah SAW beberapa di antaranya :

وَالَّذِيْنَ جَاءُوْامِنْ بَعْدِ هِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَااغْفِرْلَنَا وَلاِءخْوَنِنَاالَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلاِءْيمن

“Dan orang-orang yang datang setelah mereka, berkata: Yaa Tuhan kami, ampunilah kami dan ampunilah saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan beriman.” (QS Al-Hasyr 59: 10)

Dalam hal ini hubungan orang mu’min dengan orang mu’min tidak putus dari Dunia sampai Akherat.

وَاسْتَغْفِرْلِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنتِ

“Dan mintalah engkau ampun (Muhammad) untuk dosamu dan dosa-dosa mu’min laki dan perempuan.” (QS Muhammad 47: 19)

سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِىَّ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَارَسُوْلَ اللهِ اِنَّ اُمِى مَاتَتْ افَيَنْفَعُهَا اِنْ تَصَدَّقْتَ عَنْهَا ؟ قَالَ نَعَمْ

“Bertanya seorang laki-laki kepada Nabi SAW; Ya Rasulullah sesungguhnya ibu saya telah mati, apakah berguna bagi saya, seandainya saua bersedekah untuknya? Rasulullah menjawab; yaa berguna untuk ibumu.” (HR Abu Dawud).

Dan masih banyak pula dalil-dalil yang memperkuat bahwa orang mati masih mendapat manfa’at do’a perbuatan orang lain. Ayat ke 39 Surat An-Najm di atas juga dapat diambil maksud, bahwa secara umum yang menjadi hak seseorang adalah apa yang ia kerjakan, sehingga seseorang tidak menyandarkan kepada perbuatan orang, tetapi tidak berarti menghilangkan perbuatan seseorang untuk orang lain.

Di dalam Tafsir ath-Thobari jilid 9 juz 27 dijelaskan bahwa ayat tersebut diturunkan tatkala Walid ibnu Mughirah masuk Islam diejek oleh orang musyrik, dan orang musyrik tadi berkata; “Kalau engkau kembali kepada agama kami dan memberi uang kepada kami, kami yang menanggung siksaanmu di akherat”.

Maka Allah SWT menurunkan ayat di atas yang menunjukan bahwa seseorang tidak bisa menanggung dosa orang lain, bagi seseorang apa yang telah dikerjakan, bukan berarti menghilangkan pekerjaan seseorang untuk orang lain, seperti do’a kepada orang mati dan lain-lainnya.

Dalam Tafsir ath-Thobari juga dijelaskan, dari sahabat ibnu Abbas; bahwa ayat tersebut telah di-mansukh atau digantikan hukumnya:

عَنِ ابْنِى عَبَّاسٍ: قَوْلُهُ تَعَالى وَأَنْ لَيْسَ لِلاِءنْسنِ اِلاَّ مَا سَعَى فَأَنْزَلَ اللهُ بَعْدَ هذَا: وَالَّذِيْنَ أَمَنُوْاوَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِيَتُهُمْ بِاِءْيمنٍ أَلْحَقْنَابِهِمْ ذُرِيَتَهُمْ فَأَدْخَلَ اللهُ الأَبْنَاءَ بِصَلاَحِ اْلابَاءِاْلجَنَّةَ

“Dari sahabat Ibnu Abbas dalam firman Allah SWT Tidaklah bagi seseorang kecuali apa yang telah dikerjakan, kemudian Allah menurunkan ayat surat At-Thuur; 21. “dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, kami pertemukan anak cucu mereka dengan mereka, maka Allah memasukkan anak kecil ke surga karena kebaikan orang tua.”

Syaekhul Islam Al-Imam Ibnu Taimiyah dalam Kitab Majmu’ Fatawa jilid 24, berkata: “Orang yang berkata bahwa do’a tidak sampai kepada orang mati dan perbuatan baik, pahalanya tidak sampai kepada orang mati,” mereka itu ahli bid’ah, sebab para ulama’ telah sepakat bahwa mayyit mendapat manfa’at dari do’a dan amal shaleh orang yang hidup.

KH Nuril Huda
Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU)





Hadiah Fatihah

19 12 2007

Hadiah Fatihah
18/12/2007

Di antara tradisi umat Islam adalah membaca surat al-Fatihah dan menghadiahkan pahalanya untuk Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Para ulama mengatakan bahwa hukum perbuatan ini adalah boleh.

Ibnu ‘Aqil, salah seorang tokoh besar madzhab Hanbali mengatakan: “Disunnahkan menghadiahkan bacaan Al-Qur’an kepada Nabi SAW.

Ibnu ‘Abidin berkata: “Ketika para ulama kita mengatakan boleh bagi seseorang untuk menghadiahkan pahala amalnya untuk orang lain, maka termasuk di dalamnya hadiah kepada Rasulullah SAW. Karena beliau lebih berhak mendapatkan dari pada yang lain. Beliaulah yang telah menyelamatkan kita dari kesesatan. Berarti hadiah tersebut termasuk salah satu bentuk terima kasih kita kepadarlnya dan membalas budi baiknya.”

“Bukankah seorang yang kamil (tinggi derajatnya) memungkinkan untuk bertambah ketinggian derajat dan kesempurnaannya. Dalil sebagian orang yang melarang bahwa perbuatan ini adalah tahshilul hashil (percuma) karena semua semua amal umatnya otorrntis masuk dalam timbahan amal Rasulullah, jawabannya adalah bahwa ini bukanlah masalah. Bukankah Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitakan dalam Al-Qur’an bahwa Ia bershalawat terhadap Nabi SAW kemudian Allah memerintahkan kita untuk bershalawat kepada Nabi dengan mengatakan:

اَللّهُمَّ صَلِّي عَلَى مُحَمَّدٍ

Ya Allah berikanlah rahmat kemuliaan buat Muhammd. Wallahu A’lam.” (lihat dalam Raddul Muhtar ‘Alad-Durral Mukhtar, jilid II, hlm. 244)

Ibnu Hajar al Haytami juga menuturkan kebolehan menghadiahkan bacaan Al-Qur’an untuk Nabi dalam Al-Fatawa al-Fiqhiyyah.

Al Muhaddits Syekh Abdullah al-Ghumari dalam kitabnya Ar-Raddul Muhkam al-Matin, hhm. 270, mengatakan: “Menurut saya boleh saja seseorang menghadiahkan bacaan Al-Qu’an atau yang lain kepada baginda Nabi SAW, meskipun beliau selalu mendapatkan pahala semua kebaikan yang dilakukan oleh umatnya, karena memang tidak ada yang melarang hal tersebut. Bahwa para sahabat tidak melakukannya, hal ini tidak menunjukkan bahwa itu dilarang.

Jika hadiah bacaan Al-Qur’an termasuk al-Fatihah diperbolehkan untuk Nabi, apalagi untuk para wali dan orang-orang saleh karena mereka jelas membutuhkan tambahnya ketinggian derajat, kemuliaan dan kesempumaan dan tidak ada dalil yang melarang menghadiahkan bacaan Al-Qur’an untuk para wali dan orang­-orang shaleh tersebut.

KH A Nuril Huda

Ketua PP Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU)





Imam Bukhori

11 12 2007

Shohih Bukhori merupakan karya terbesar dan terpenting di bidang hadits. Inilah jasa dan tinggalan beliau yang agung dan sangat penting bagi izzul Islam wal muslimin. Dan sejak dulu sampai sekarang kitab Shohih Bukhori ini bila dibaca secara berjamaah ada khasiat dan berkahnya, seperti untuk menangkal musibah dan memulihkan keselamatan kembali. Pembacaan kitab Bukhori dengan tujuan ini sampai sekarang masih tetap berlaku. Menyebut nama beliau (Imam Muhammad bin Ismail al Bukhori) saja sudah bisa meminta turunnya rahmat ilahi sebagaimana kata Imam Sya’roni.
Imam Bukhari mempunyai nama asli Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah Al-Ju’fi Al-Bukhari. Karena mempunyai putra tertua yang bernama Abdullah, maka sebagaimana kebiasaan, beliau juga dikenal dengan julukan Abu Abdullah. Sedangkan nama beliau yang masyhur, Bukhari, hal ini dinisbatkan kepada desa tempat kelahiran beliau. Imam Bukhori dilahirkan pada hari Jum’at 13 Syawal 194 H (810 M), di desa Bukhara, Uzbekistan. Walau tak sepopuler anaknya, Ismail ayah Bukhari, termasuk ulama di bidang hadits. Sewaktu menunaikan ibadah haji, Ismail menyempatkan menemui Al-Imam Malik bin Anas, Al-Imam Abdullah bin Al-Mubarak dan lain-lain yang terkenal sebagai ulama ahli hadits pada masanya. Bukhari tak pernah mengenyam pendidikan dari ayahnya, karena dalam usia 5 tahun, ia telah yatim. Sejak kecil, Bukhari dibimbing dan dididik untuk mencintai ilmu, terutama melalui buku-buku peninggalan ayahnya sendiri. Disamping bersekolah sebagaimana anak muslim lainnya, di rumah ia menjadi kutu buku, berkat bimbingan ibunya. Di usia 10 tahun, Muhammad Bukhori yang ditopang kecerdasan dan daya ingat yang diatas rata-rata anak yang lain, mulai menghafal dan menganalisa hadits dengan antusias. Beberapa tahun kemudian, ia merasa kurang dengan sekedar berguru di desa dan menggali buku peninggalan ayahnya. Untuk mengurangi rasa penasarannya dan keinginan yang kuat untuk menambah ilmu, Muhammad Bukhori mulai mendatangi tokoh-tokoh ahli hadits di sekitar desanya. Dalam usia 16 tahun, nama Muhammad bin Ismail Al Bukhori mulai dikenal khususnya di kalangan ulama hadits sebagai pemuda yang cerdas. Saat itu ia telah banyak menghafal ayat-ayat suci Al-Qur’an (menurut sumber lain menghafal seluruhnya) dan menghafal beberapa buku hadits yang ditulis oleh Al- Imam Abdullah bin Al-Mubarak dan Al-Imam Waki’, yang terkenal sebagai ahli hadits pada masa itu. Pada tahun 210H (menurut riwayat lain 216H), Muhammad Bukhori diajak ibunya untuk pergi haji. Ia menyambut gembira ajakan ini, karena apa yang selama ini ia idam-idamkan, yaitu berkelana mencari para ulama ahli hadits akan menjadi kenyataan dengan kepergiannya ke Mekkah. Saat musim haji tiba, Muhammad beserta saudaranya, Ahmad, berangkat menuju Mekkah. Kepergiannya kali ini dapat dikatakan awal perjalanan pengembaraannya mencari hadits. Dan seperti yang telah diduga sebelumnya, ketika Ahmad dan ibunya kembali, Muhammad memilih untuk menetap lebih lama di Mekkah. Selama tinggal di Mekkah, Muhammad berguru kepada para ulama ahli hadits pada masa itu, seperti Al-Walid, Al-Azraqi, Ismail bin Salim dan lain-lain. Tak lama kemudian ia mengunjungi kota Madinah, untuk menemui para anak cucu sahabat Nabi SAW. Selama bermukim di Madinah setahun, ia sempat menulis dua buku yang berjudul Qadhaya Ash-Shahabah wa At-Tabi’in dan At-Tariikh Al-Kabiir. Kedua buku itu ditulis saat ia berusia 18 tahun, dan keduanya merupakan karya pertama dari penulis yang cukup produktif ini.

Berawal dari Mekkah dan Madinah, akhirnya Muhammad memulai pengembaraan panjangnya menemui para ulama hadits. Pada masa itu, pencarian hadits hingga ke kota bahkan negara lain telah dilakukan oleh para ulama, tapi Muhammad tercatat sebagai orang pertama yang lawatan dan pencariannya terluas. Syam, Baghdad, Wshit, Basrah, Kufah, Meir, Maru, Asqalan, Rei, Maisabur, Himsha, Khurasan dan masih banyak lagi daerah lain yang sempat dikunjunginya. Pengembaraan panjang yang terkadang hilir mudik ini, memakan waktu selama 16 tahun. Lebih dari seribu ahli hadits sempat ditemuinya, dan sekaligus menjadi guru dan perawi hadits yang dihimpunnya. Dari jumlah tersebut, dapat diklasifikasikan menjadi 5 kelompok, dan hampir kesemuanya termasuk ulama dan juga ahli hadits. Selama masa perlawatan, Muhammad sempat menulis beberapa buku, khususnya mengenai permasalahan hadits yang disenanginya sejak kecil. Diantara buah tangannya adalah : Al-Adab Al-Mufrad, Ra’fu Al-Yadain fii As-Shalah, Birru Al-Walidain, At-Taariikh Al-Ausat, Ad-Dhuafa’, Al-Asyribah, Al-Hibah, dan lain-lain. Dan dari sekian banyak karyanya, Al-Jami As-Shahihlah yang melambungkan nama Imam Bukhari. Setelah melewati masa pengembaraan selama 16 tahun, Imam Bukhari berhasil menghimpun sekitar 600.000 hadits yang diperolehnya dari puluhan negeri dan ribuan guru. Setelah diadakan penyeleksian, menurut perhitungan Ibnu Shalah dan Imam Nawawi, terjaring 7.275 hadits yang dianggap shahih. Jumlah ini termasuk pengulangan, sedangkan bila tanpa pengulangan tercatat sekitar 4.000 hadits. Menurut perhitungan Al-Imam Al-Hafidz adalah sebanyak 7.397 hadits, sedang bila tanpa pengulangan sebanyak 2.602 hadits. Ada juga ulama lain yang berbeda pendapat dari jumlah diatas. Sedang bila melihat kitab Shahih Bukhari terbitan Dahlan, Bandung, yang urutan haditsnya diberi nomor, kesemuanya berjumlah 7.108 hadits.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Imam Bukhari berkata : “Kutulis kitab ini dari 1.080 orang yang kesemuanya ahli hadits, dan kesemuanya mengatakan bahwa iman itu adalah kata dan perbuatan yang dapat bertambah dan berkurang. Kalau aku hendak menuliskan sebuah hadits di dalam kitab Shahih, maka sebelum memegang pena, aku mandi terlebih dahulu dan sholat 2 rakaat sebagai perwujudan rasa syukur kehadirat ilahi.” Pada masa berikutnya muncul ulama yang mensyarah (menerangkan maksud, memperjelas dan mengomentari) hadits yang termaktub di dalam kitab Shahih Bukhari. Hingga kini lebih dari 100 syarah telah disusun oleh para ulama. Dari sekian banyak syarah, yang terkenal diantaranya adalah : Fathu Al-Baari, oleh Syihabuddin Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Hajar Al-’Asqalani (wafat tahun 853 H). Irsyadu As-Saari, oleh Ahmad bin Muhammad Al-Mishri Al-Qashthalani (wafat tahun 923 H). ‘Umdatu Al-Qaari, oleh Al-’Aini (wafat 855 H). At-Tawsyih, oleh Jalaluddin As-Suyuthi dan lain-lain. Dari semua kitab syarah yang ada, Fathu Al-Baari lah yang paling bagus, hingga digelari dengan “Raja Syarah Bukhari”. Selain syarah, masih terdapat beberapa kitab yang men-ta’liq (memberi komentar/penjelasan pada bagian-bagian tertentu). Dan ada juga yang meringkas atau yang biasa disebut dengan mukhtashar, seperti :
At-Tajridu As-Shahih, oleh Al-Husain bin Al- Mubarak (wafat tahun 631 H), At-Tajridu As-Shahih, oleh Ahmad bin Ahmad bin Abdul Latif Asy-Syiraji Az-Zabidi (wafat 983 H), dan lain-lain.

Kira-kira seabad setelah kitab Shahih Bukhari tersusun, muncullah segelintir ulama hadits yang mengkritik isi kitab tersebut. Diantaranya Al-Daaraqutni (wafat 385 H), Abu Ali Al-Ghassani (wafat 365 H), dan lain-lain. Kritikan para ulama ini (yang tertuju tidak lebih dari 100 hadits) dari sudut pandang ilmu-ilmu hadits, yang menurut mereka, terdapat juga di dalamnya (Shahih Bukhari) hadits yang dhoif. Namun 3 abad setelah kritikan diatas, justru muncullah ulama hadits yang membela dan membantah kritikan ulama sebelumnya. Bahkan Ibnu Shalah (wafat 643 H) mengomentari kitab Shahih Bukhari sebagai afshah al-kutub ba’da Al-Qur’an (kitab yang paling shahih /otentik setelah Al- Qur’an). Pendapat ini juga didukung oleh ulama setelahnya, seperti Imam Nawawi (wafat 852 H), Ibnu Hajar (wafat 852 H) dan lain-lain yang akhirnya menjadi kesepakatan jumhur ulama Ahlus Sunnah. Pada perkembangan selanjutnya, muncul bantahan atas kritik yang pernah ditujukan terhadap kitab Shahih Bukhari. Namun bersamaan dengan itu, muncul pula kritikan baru, baik dari para orientalis maupun umat Islam sendiri, seperti : Muhammad Al-Ghazali (bukan Imam Ghozali pengarang kitab Ihya, pen), Ahmad Amin, dan lain-lain. Yang perlu dicermati, terdapat perbedaan yang cukup mendasar antara kritik ulama terdahulu dengan yang datang kemudian. Ulama terdahulu mengkritik dengan mengacu kepada ilmu-ilmu hadits, sedangkan pengkritik setelahnya dan terutama akhir-akhir ini, hanya berdasarkan logika atau juga akal mereka masing-masing. Diakui ataupun tidak, baik secara langsung maupun tidak, sedikit banyak mereka terpengaruh dengan para orientalis atau pola pikir mereka. Terhadap kritikan ulama terdahulu pun, yang mengkritik sesuai dengan ilmu-ilmu hadits, menurut penyelidikan ulama sesudahnya tidak terbukti. Karena mereka mengembalikan dan mencocokkan kembali terhadap hadits-hadits yang dikritik. Mereka berkesimpulan bahwa seluruh hadits yang terdapat di kitab Shahih Bukhari semuanya adalah shahih. Dan satu hal lagi yang perlu kita ingat, kepopuleran Shahih Bukhari bukan muncul begitu saja dan sejak semula, tapi justru setelah mendapat kritik. Dengan kata lain, julukan yang akhirnya menjadi kesepakatan jumhur ulama hadits ini, lahir setelah mendapat pengujian dan pengujian lagi. Dan tentu saja setelah terbukti kritikan yang diarahkan kepadanya adalah tak berdasar, atau juga tidak tepat. Dalam masalah ini, H. Ali Mustafa Yaqub didalam bukunya mengutip keterangan Imam Nawawi yang berkata : “Kritikan Daaraqutni dan yang lainnya itu hanyalah berdasarkan kritikan-kritikan yang ditetapkan oleh sejumlah ahli hadits yang justru dinilai lemah sekali ditinjau dari ilmu hadits.” Satu hal terpenting dalam urusan hadits adalah rawi atau periwayat suatu hadits. Dari puluhan ribu hadits Rasulullah SAW yang sampai pada kita, kesemuanya melalui rawi berantai hingga kepada Nabi SAW. Pada umumnya, seluruh sahabat menerima hadits dari Nabi SAW, namun berfariasi dalam jumlah. Hal ini dikarenakan sebagian dari mereka ada yang tinggal di desa, ada yang sering berniaga/bepergian, ada yang selalu meluangkan waktu di masjid dan lain-lain. Yang perlu kita ingat juga, hadits-hadits yang ada terbanyak diterima para sahabat dari ucapan atau tindakan Nabi yang disampaikan di berbagai tempat dan situasi. Sedang hadits yang diterima dalam suatu majlis resmi seperti khutbah Jum’at, ‘id dan sejenisnya adalah tergolong sedikit. Kesemua alasan diatas membuat mereka bervariasi dalam menerima jumlah hadits. Selain itu terdapat juga faktor-faktor tertentu yang membuat seseorang sahabat mendengar banyak hadits, diantaranya adalah : lebih dahulu masuk Islam, selalu menyertai Nabi, erat hubungannya dengan Nabi, kuat hafalannya, berusia lanjut sepeninggal Nabi, hingga mendengar juga hadits dari para sahabat dan lain-lain.

Dari sekian banyak Sahabat, yang terbanyak dalam meriwayatkan hadits adalah :
1. Abu Hurairah (19 SH – 59 H). Beliau meriwayatkan sebanyak 5.374 hadits, namun menurut penyelidikan terakhir, jumlah yang benar hanya 1.236. Sedang jumlah hingga lebih dari 5.000, termasuk jumlah jalur periwayatannya. Dari seluruh hadits yang diriwayatkannya, Imam Bukhari hanya mengambil 419 hadits (7,7% bila diyakini beliau meriwayatkan 5.374). Sedangkan prosentase hadits di kitab Shahih Bukhari yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah adalah sekitar 6%.
2. Abdullah Ibnu Umar (10 SH – 73 H). Beliau meriwayatkan sebanyak 2.630 hadits, dan diambil oleh Imam Bukhari sebanyak 249 hadits (9,4%).
3. Anas bin Malik (10 SH – 93 H). Beliau meriwayatkan 2.286 hadits, sedangkan yang diambil oleh Imam Bukhari sebanyak 248 hadits (10%).
4. Aisyah (9 SH – 58 H). Beliau meriwayatkan 2.210 hadits, 248 diantaranya diriwayatkan oleh Imam Bukhari.
5. Abdullah Ibnu Abbas (3 SH – 68 H). Beliau meriwayatkan 1.660 hadits, sedangkan yang dirawatakan oleh Imam Bukhari sebanyak 195 (11,7%).
6. Jabir bin Abdullah (6 SH – 78 H). Beliau meriwayatkan 1.540 hadits, sedangkan yang dirawatakan oleh Imam Bukhari sebanyak 86 hadits (5,5%).
7. Abu Sa’id Al-Khudri (12 SH – 74 H). Beliau meriwayatkan 1.170 hadits, sedangkan yang dirawatakan oleh Imam Bukhari sebanyak 59 hadits (5%).

Ketujuh nama diatas, memang terkenal sebagai periwayat terbanyak, termasuk di dalamnya Shahih Bukhari. Sedangkan nama-nama yang lainnya yang juga diambil periwayatannya oleh Imam Bukhari diantaranya : Sayyidina Abu Bakar : 17 hadits, Sayyidina Umar : 60 hadits, Sayyidina Utsman : 11 hadits, Sayyidina Ali : 29 hadits, Abdullah Ibnu Mas’ud : 85 hadits, Abu Musa Al-Asy’ari : 53 hadits, Al-Barraa’ Ibnu ‘Azib : 38 hadits, Imaran Ibnu Hushain : 12 hadits, Hudzaifah bin Al-Yaman : 20 hadits, Abu Dzar Al-Ghifari : 14 hadits, Sa’ad bin Abi Waqqash : 20 hadits, Asma’ binti Abu Bakar : 28 hadits, Ummu Salamah : 16 hadits, Maimunah binti Al-Harits : 11 hadits dan nama-nama lainnya yang jumlahnya mencapai ratusan.

Para sahabat Nabi SAW tergolong sangat berhati-hati dalam meriwayatkan hadits. Begitu juga para ulama pengambil hadits. Mengenai hal ini diriwayatkan, bahwa Imam Bukhari pernah menempuh jarak ratusan mil untuk menemui seorang perawi hadits. Saat tiba di lokasi, ternyata si perawi sedang sibuk mengejar seekor kudanya. Orang itu mendekati kudanya sambil membawa sebuah ember seolah ingin memberi makan, padahal ember itu kosong dari makanan. Melihat pemandangan ini, Imam Bukhari membatalkan niatnya untuk mengambil hadits dari orang itu. Ia beranggapan, bila terhadap binatang saja ia berlaku tidak jujur, dia pun bisa berlaku yang sama dalam meriwayatkan hadits. Masalah kehati-hatian dalam meriwayatkan hadits, tergambar dalam ucapan Anas bin Malik yang setiap meriwayatkan sebuah hadits, beliau berucap, “Au kamaa qaala” (yang artinya “atau sebagaimana yang disabdakan”). Hal ini karena kekhawatiran berbeda lafadz dengan apa yang disabdakan oleh Nabi SAW. Zaid bin Arqam setelah berusia lanjut, apabila ditanya tentang suatu hadits, beliau menjawab, “Kami telah tua dan banyak lupa, sedangkan menerangkan hadits adalah tugas yang sangat berat.” Asy-Sya’by berkata, “Saya pernah duduk setahun lamanya di majlis Ibnu Umar, namun tak satu hadits pun yang kudengar darinya.” Sedang mengenai Abu Hurairah yang melazimi Nabi hanya 3 tahun, namun meriwayatkan terbanyak, beliau berucap, “Aku menerima banyak hadits, karena aku senantiasa berada disamping Rasulullah SAW. Aku tidak berdagang, tidak bertani dan seluruh waktuku kupergunakan untuk menghafal hadits.” Mengenai daya ingat para Sahabat dan khususnya Abu Hurairah ini sangat makruf di dalam sejarah. Bahkan diriwayatkan, bahwa beliau mendapat doa khusus dari Rasulullah agar kuat hafalannya. Gubernur Marwan pernah menguji hafalan Abu Hurairah. Beliau dipanggil dan disuruh menyampaikan hadits, sementara sekretaris Marwan menulis seluruh hadits yang disampaikannya. Setahun kemudian, beliau dipanggil lagi untuk menyampaikan apa yang pernah disampaikannya tentang hadits. Sekretaris Marwan bersembunyi sambil mencocokkan apa yang pernah ditulisnya setahun yang lalu. Dan ternyata tak satu pun hadits yang terlewati, atau juga yang salah. Kekuatan hafalan ini juga dimiliki oleh Imam Bukhari. Sewaktu beliau datang ke Baghdad, para ahli hadits disana ingin mengujinya dengan memutar-balikkan perawi dari 100 hadits. Setelah mereka selesai mengacaukan perawi-perawi 100 hadits tersebut, Imam Bukhari mampu merangkai kembali dan menunjukkan kesalahan mereka satu per satu hingga selesai 100 hadits. Imam Bukhari yang setiap malam bulan Ramadhan menyelesaikan 1/3 Al-Qur’an dan tiga hari katam sekali dan setiap khatam lalu berdoa dan sabdanya setiap satu khataman aku berdo’a dan dikabulkan. Beliau juga berkata : “Aku ingin bertemu dengan Allah (mati) dalam keaadaan bebas dari segala tuntutan, maka aku tidak pernah membicarakan kejelekan orang lain. Beliau wafat pada malam 1 Syawal 256 H (870 M), di Khartanak, Samarqand. Semoga Allah SWT meridhoi beliau, dan melimpahkan barakahnya kepada kita semua. Aaamiin.

Diambil dari Sejarah Singkat Imam Bukhari dan Karyanya Shohih Bukhori, Habib Muhsin bin Muhammad Aljufri & Habib Abdurrahman Alhaddad.





Sayyid Muhammad ibn Alawi Al-Maliki

11 12 2007

Kelemahan Islam Terdapat pada Pertikaian para Ulamanya

 Sayyid Prof. Dr. Muhammad ibn Sayyid ‘Alawi ibn Sayyid ‘Abbas ibn Sayyid ‘Abdul ‘Aziz al-Maliki al-Hasani al-Makki al-Asy’ari asy-Syadzili lahir di Makkah pada tahun 1365 H. Pendidikan pertamanya adalah Madrasah Al-Falah, Makkah, dimana ayah beliau Sayyid Alawi bin Abbas al Maliki sebagai guru agama di sekolah tersebut yang juga merangkap sebagai pengajar di halaqah di Haram Makki. Beliau juga belajar kepada ulama-ulama Makkah terkemuka lainnya, seperti Sayyid Amin Kutbi, Hassan Masshat, Muhammad Nur Sayf, Sa’id Yamani, dan lain-lain. Sayyid Muhammad memperoleh gelar Ph.D-nya dalam Studi Hadits dengan penghargaan tertinggi dari Jami’ al-Azhar di Mesir, pada saat baru berusia dua puluh lima tahun. Beliau kemudian melakukan perjalanan dalam rangka mengejar studi Hadits ke Afrika Utara, Timur Tengah, Turki, Yaman, dan juga anak benua Indo-Pakistan, dan memperoleh sertifikasi mengajar (ijazah) dan sanad dari Imam Habib Ahmad Mashhur al Haddad, Syaikh Hasanayn Makhluf, Ghumari bersaudara dari Marokko, Syekh Dya’uddin Qadiri di Madinah, Maulana Zakariyya Kandihlawi, dan banyak lainnya. Sayyid Muhammmad merupakan pendidik Ahlus Sunnah wal Jama’ah, seorang ‘alim kontemporer dalam ilmu hadits, ‘alim mufassir (penafsir) Qur’an, Fiqh, doktrin (‘aqidah), tasawwuf, dan biografi Nabawi (sirah). Sayyid Muhammad al-Makki merupakan seorang ‘aliim yang mewarisi pekerjaan dakwah ayahanda, membina para santri dari berbagai daerah dan negara di dunia Islam di Makkah al-Mukarromah. Ayahanda beliau adalah salah satu guru dari ulama-ulama sepuh di Indonesia, seperti Hadratus Syaikh K.H. Hasyim Asy’ari, KH. Abdullah Faqih Langitan, KH. Maimun Zubair dan lain-lain. Dalam meneruskan perjuangan ayahandanya, Sayyid Muhammad sebelumnya mendapatkan sedikit kesulitan karena beliau merasa belum siap untuk menjadi pengganti ayahnya. Maka langkah pertama yang diambil adalah melanjutkan studi dan ta’limnya terlebih dahulu. Beliau berangkat ke Kairo dan Universitas al-Azhar Assyarif merupakan pilihannya. Setelah meraih S1, S2 dan S3 dalam fak Hadith dan Ushuluddin beliau kembali ke Makkah untuk melanjutkan perjalanan yang telah di tempuh sang ayah. Disamping mengajar di Masjidil Haram di halaqah, beliau diangkat sebagai dosen di Universitas King Abdul Aziz- Jeddah dan Univesitas Ummul Qura Makkah bagian ilmu Hadith dan Usuluddin. Cukup lama beliau menjalankan tugasnya sebagai dosen di dua Universitas tsb, sampai beliau memutuskan mengundurkan diri dan memilih mengajar di Masjidil Haram sambil membuka majlis ta’lim dan pondok di rumah beliau. Adapun pelajaran yang di berikan baik di masjidil haram atau di rumah tidak bertumpu pada ilmu tertentu seperti di Universitas, akan tetapi semua pelajaran yang diberikannya bisa di terima semua masyarakat baik masyarakat awam atau terpelajar, semua bisa menerima dan mencicipi apa yang diberikan Sayyid Muhammad Maka dari itu beliau selalu menitik beratkan untuk membuat rumah yang lebih besar dan bisa menampung lebih dari 500 murid per hari yang biasa dilakukan selepas sholat Maghrib sampai Isya di rumahnya di Hay al Rashifah. Begitu pula setiap bulan Ramadan dan hari raya, beliau selalu menerima semua tamu dan muridnya dengan tangan terbuka tanpa memilih golongan atau derajat. Semua di sisinya sama tamu-tamu dan murid murid, semua mendapat penghargaan yang sama dan semua mencicipi ilmu bersama. Dari rumah beliau telah keluar ulama-ulama yang membawa panji Rasulallah ke suluruh pelosok permukaan bumi. Di Indonesia, India, Pakistan, Afrika, Eropa, Amerika, apa lagi di Asia yang merupakan sebagai orbit dakwah Sayyid Muhammad al Maliki, ribuan murid murid beliau yang bukan hanya menjadi kyai dan ulama akan tetapi tidak sedikit yang masuk ke dalam pemerintahan. Di samping pengajian dan taklim yang rutin di lakukan setiap hari, beliau juga mengasuh pondok yang jumlah santrinya tidak sedikit, semua berdatangan dari penjuru dunia, belajar, makan, dan minum tanpa di pungut biaya sepeser pun bahkan beliau memberikan beasiswa kepada para santri sebagai uang saku. Setelah beberapa tahun belajar, para santri dipulangkan ke negara-negara mereka untuk menyiarkan agama. Sayyid Muhammad al Maliki dikenal sebagai guru, pengajar dan pendidik yang tidak beraliran keras, tidak berlebih- lebihan, dan selalu menerima hiwar dengan hikmah dan mauidhah hasanah. Beliau ingin mengangkat derajat dan martabat Muslimin menjadi manusia yang berperilaku, baik dalam muamalatnya kepada Allah dan kepada sesama, terhormat dalam perbuatan, tindakan serta pikiran dan perasaannya. Beliau adalah orang cerdas dan terpelajar, berani dan jujur serta adil dan cinta kasih terhadap sesama. Itulah ajaran utama Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki. Beliau selalu menerima dan menghargai pendapat orang dan menghormati orang yang tidak sealiran dengannya. Semua yang berlawanan diterima dengan sabar dan usaha menjawab dengan hikmah dan memecahkan sesuatu masalah dengan kenyataan dan dalil-dalil yang benar bukan dengan emosi dan pertikaian yang tidak bermutu dan berkesudahan. Sayyid Muhammad tahu persis bahwa kelemahan Islam terdapat pada pertikaian para ulamanya dan ini memang yang di inginkan musuh Islam. Sampai-sampai beliau menerima dengan rela digeser dari kedudukannya baik di Universitas dan ta’lim beliau di masjidil Haram. Semua ini beliau terima dengan kesabaran dan keikhlasan bahkan beliau selalu menghormati orang orang yang tidak sependapat dan sealiran dengannya, semasih mereka memiliki pandangan khilaf yang bersumber dari al-Qur’an dan Sunah. Adapun ulama yang telah mendapat gemblengan dari Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki, mereka sangat pandai, di samping menguasai bahasa Arab, mereka juga menguasai ilmu-ilmu agama yang cukup untuk dijadikan pegangan dan referensi di negara-negara mereka. Pada akhir hayat beliau saat terjadi insiden teroris di Saudi Arabia, beliau mendapatkan undangan dari ketua umum Masjidil Haram Syekh sholeh bin Abdurahman Alhushen untuk mengikuti “Hiwar Fikri” di Makkah yang diadakan pada tg 5 sd 9 DhulQo’idah 1424 H dengan judul “Al-qhuluw wal I’tidal Ruya Manhajiyyah Syamilah”, di sana beliau mendapat kehormatan untuk mengeluarkan pendapatnya tentang thatarruf atau yang lebih poluler disebut ajaran yang beraliran fundamentalists atau extremist (keras). Dan dari sana beliau telah meluncurkan sebuah buku yang sangat popular dikalangan masyarakat Saudi yang berjudul “Alqhuluw Dairah Fil Irhab Wa Ifsad Almujtama”. Dari situ, mulailah pandangan dan pemikiran beliau tentang da’wah selalu mendapat sambutan dan penghargaan masyarakat luas. Pada tg 11/11/1424 H, beliau mendapat kesempatan untuk memberikan ceramah di hadapan wakil raja Amir Abdullah bin Abdul Aziz yang isinya beliau selalu menggaris-bawahi akan usaha menyatukan suara ulama dan menjalin persatuan dan kesatuan da’wah. Di samping tugas beliau sebagai da’i, pengajar, pembibing, dosen, penceramah dan segala bentuk kegiatan yang bermanfaat bagi agama, beliau juga seorang pujangga besar dan penulis unggul. Tidak kurang dari 100 buku yang telah dikarangnya, semuanya beredar di seluruh dunia. Tidak sedikit dari kitab-kitab beliau yang beredar telah diterjemahkan kedalam bahasa Inggris, Prancis, Urdu, Indonesia dll. Mafahim Yujibu an-Tusahhah (Konsep-konsep yang perlu diluruskan) adalah salah satu kitab karya Sayyid Muhammad, red.) bersinar layaknya suatu kemilau mutiara. Inilah seorang manusia yang menantang rekan-rekan senegaranya, kaum Salafi-Wahhabi, dan membuktikan kesalahan doktrin-doktrin mereka dengan menggunakan sumber-sumber dalil mereka. Untuk keberanian intelektualnya ini, Sayyid Muhammad dikucilkan oleh ‘rumah Najd’ dan dituduh sebagai “seorang yang sesat”. Beliau pun dicekal dari kedudukannya sebagai pengajar di Haram (yaitu di Masjidil Haram, Makkah, red.). Kitab-kitab karya beliau dilarang, bahkan kedudukan beliau sebagai professor di Umm ul-Qura pun dicabut. Beliau ditangkap dan passport-nya ditahan. Namun, dalam menghadapi semua hal tersebut, Sayyid Muhammad sama sekali tidak menunjukkan kepahitan dan keluh kesah. Beliau tak pernah menggunakan akal dan intelektualitasnya dalam amarah, melainkan menyalurkannya untuk memperkuat orang lain dengan ilmu (pengetahuan) dan tasawwuf. Saat kaum Salafi-Wahhabi mendiskreditkan beliau, beliau pun menulis lebih banyak buku dan mendirikan Zawiyyah beliau sendiri yang menjadi “United Nations” (Perserikatan Bangsa- Bangsa) dari para ‘Ulama. Akhirnya, protes dari dunia Muslim memaksa kaum Salafi-Wahhabi untuk menghentikan usaha mereka mem-peti es-kan sang ‘alim kontemporer’ yang paling terkenal dalam mazhab Maliki ini. Beberapa di antara mereka bahkan mulai mendukung beliau. Kedengkian mereka sebenarnya didorong oleh fakta bahwa Sayyid Muhammad al-Maliki jauh lebih unggul untuk dijadikan tandingan mereka. Dengan sendirian saja, beliau mengambil Islam Sunni dari klaim tangan-tangan Neo-Khawarij Salafi-Wahhabi dan menempatkannya kembali ke tangan mayoritas ummat ini. Melalui berbagai karya-karyanya yang menonjol, beliau menyuntikkan kepercayaan diri yang amat dibutuhkan dalam perdebatan saat kaum jahil yang mengandalkan ijtihad pribadi mulai meracuni pemikiran umat Islam. Beliau wafat hari jumat tgl 15 ramadhan 1425 H ( 2004 M) dan dimakamkan di pemakaman Al-Ma’la disamping makam istri Rasulallah Saw. Khadijah binti Khuailid Ra. dengan meninggalkan 6 putra, Ahmad, Abdullah, Alawi, Ali, al- Hasan dan al-Husen dan beberapa putri-putri yang tidak bisa disebut satu persatu disini. Dan yang menyaksikan pemakaman beliau hampir seluruh umat muslimin yang berada di Makkah pada saat itu termasuk para pejabat, ulama, para santri yang datang dari seluruh pelosok negeri, baik dari luar Makkah atau dari luar negeri. Semuanya menyaksikan hari terakhir beliau sebelum disemayamkan, setelah disholatkan di Masjidil Haram ba’da sholat isya yang dihadiri oleh tidak kurang dari sejuta manusia. Begitu pula selama tiga hari tiga malam rumahnya terbuka bagi ribuan orang yang ingin mengucapkan belasungkawa dan melakukan `aza’. Dan di hari terakhir `Aza, wakil Raja Saudi, Amir Abdullah bin Abdul Aziz dan Amir Sultan datang ke rumah beliau untuk memberikan sambutan belasungkawa dan mengucapkan selamat tinggal kepada pemimpin agama yang tidak bisa dilupakan umat. Ketika jenazah Sayyid Muhammad Al Maliki hendak dishalatkan di Masjidil Haram, ribuan warga kota Mekkah bergantian menggusung jenazahnya. Dikabarkan toko-toko di sekitar Masjidil Haram yang dilewati jenazah mematikan lampu sebagai tanda dukacita. Kebesaran keluarga Al Maliki, bukan hanya di Indonesia, tapi juga di negara-negara Afrika, Mesir, dan Asia Tenggara. Jadi tidak heran dengan meninggalnya Sayyid Muhammad Al Maliki umat Islam telah kehilangan satu ulama yang telah mengoreskan tinta sejarah perjuangan menegakkan kalimat tauhid di muka bumi ini yang menjadi tauladan buat kita semua.





KH. Wahab Chasbullah, Kyai Multikultural

11 12 2007

Kyai yang satu ini adalah sosok kyai sejati yang selalu mengayomi dan memberikan kesejukan kepada umat. Kearifan, pengetahuan dan pengalaman hidupnya menjadikannya sebagai sosok yang sangat disegani dan dihormati oleh rakyat Indonesia, khususnya kalangan umat Islam terlebih kalangan warga nahdhiyin. Beliau telah mengukir sejarah yang gemilang dalam meletakkan prinsip-prinsip agama dan kehidupan sebagai kunci dan pegangan hidup bermasyarakat dan bernegara. Berbagai macam prestasi perjuangannya telah diraihnya dengan cemerlang. Perannya di semua lini kehidupan, politik, budaya, agama menjadikannya sebagai kyai multikultural yang menjadi tokoh simbol perjuangan anak bangsa. Pemikiran-pemikirannya selalu dijadikan sebagai bahan pertimbangan dan solusi dalam menyelesaikan berbagai macam persoalan, baik persoalan keagamaan maupun kebangsaan. Pengalaman hidupnya di tiga zaman telah membentuk pribadi yang arif dan bijaksana. Mengenal KH. Wahab Chasbullah KH. Wahab lahir pada bulan Maret 1888 M. dari pasangan Kyai Chasbullah dan Nyai Lathifah di Tambakberas Jombang. Keluarga Chasbullah, pengasuh pondok Tambakberas ini masih mempunyai hubungan kekerabatan dengan ulama paling masyhur di awal abad ke-20 yang juga berasal dari Jombang, yaitu KH. Hasyim Asy’ari. Nasab keduanya bertemu dalam satu keturunan dengan KH. Abdussalam. Konon jika diurut ke atas, nasab keluarga ini akan bermuara pada Lembu Peteng, salah seorang raja di Majapahit. Sejak kecil beliau dididik secara langsung oleh ayahnya. Beliau diajari pendidikan agama, seperti membaca al-Qur’an, tasawuf, dsb. Setelah dipandang cukup, KH. Wahab berkelana ke berbagai pesantren untuk berguru, di antaranya di Pesantren Langitan-Tuban, Pesantren Mojosari-Nganjuk di bawah bimbingan Kyai Sholeh, Pesantren Tawangsari-Surabaya, dan Pesantren Bangkalan-Madura di bawah bimbingan langsung Kyai Kholil yang masyhur itu. Oleh Kyai Kholil, Kyai Wahab disuruh berguru di Pesantren Tebuireng. Di berbagai pesantren inilah KH. Wahab menimba pengetahuan dan pengalaman. Beliau mempelajari kitab-kitab penting keagamaan sampai mahir. Pada usia 27 tahun KH. Wahab meneruskan pendidikannya ke Makkah. Di kota suci itu beliau berguru kepada ulama terkenal diantaranya KH. Machfudz Termas, KH. Muhtarom Banyumas, Syekh Ahmad Chotib Minangkabau, KH. Bakir Yogyakarta, KH. Asya’ri Bawean, Syekh Said al-Yamani dan Syekh Umar Bajened. Semua itu menambah lengkapnya wawasan sosial dan pengetahuan keagamaan KH. Wahab. Melihat riwayat pendidikannya, tidak heran jika di kalangan ulama dan para pejuang sebayanya, KH. Wahab tampak paling menonjol di segi wawasan pemikiran dan pengetahuannya. Seperti kebiasaan pola hidup di pesantren, KH. Wahab pun hidup dengan sangat sederhana. Untuk memenuhi nafkah keluarganya, KH. Wahab berdagang apa saja yang penting halal. Di antaranya beliau pernah berdagang nila dan pernah menjadi perwakilan sebuah biro perjalanan haji. Karena banyaknya bidang usaha yang digeluti, beliau mempercayakan pengelolalaan usahanya kepada orang lain dengan cara bagi hasil. KH. Wahab selalu dilukiskan sebagai orang yang energik, penuh semangat, ramah dan berwibawa. Pancaran sinar wajahnya menyimpan aura kelembutan dan kasih sayang. Selain pemurah kyai yang satu ini sulit untuk marah dan dendam. “Meskipun orangnya kecil, beliau tampak selalu bersikap gagah,” kata KH Saifuddin Zuhri, salah seorang pengagumnya. Selanjutnya KH. Saifuddin Zuhri juga melukiskan bahwa KH. Wahab adalah ulama yang mempunyai pengetahuan sangat luas, tidak terbatas pada bidang agama saja. Orang yang pernah dekat dengannya tidak pernah jemu mendengarkan uraian kata-katanya yang serba baru dan selalu mengandung nilai-nilai kebenaran. KH. Wahab bukan termasuk golongan ulama “klise”. Tindak tanduk dan tutur katanya selalu orisinal yang keluar dari perbendaharaan ilmu dan pengalamannya. Beliau tidak pernah merasa canggung saat berbicara di muka ribuan manusia. Beliau tidak bangga bila berbicara di hadapan orang banyak, begitu juga tidak pernah kecewa bila yang mengerumuni sedikit orangnya. Selain karena kecerdasan otaknya, retorika penyampaiannya juga menarik sehingga setiap uraian kata-katanya dapat didengar dan dicerna dengan baik dan tidak membosankan. Bagi warga NU, organisasi Islam terbesar di Indonesia, KH. Wahab tidak sekadar tokoh dan pendiri, melainkan juga sebagai simbol pemersatu, yang menarik juga adalah tradisi intelektualnya di kalangan ulama pesantren. Diceritakan bahwa KH. Wahab mendirikan, memelihara dan membesarkan NU dengan ilmunya, baru kemudian dengan harta dan tenaganya. Oleh karena itu, tidak berlebihan jika orang menyebut KH. Wahab adalah ruh sekaligus motor penggerak NU, sejak NU berwujud kelompok kecil yang tidak diperhitungkan sampai menjadi jam’iyah Islam terbesar di Indonesia. Agak sulit menemukan kata-kata yang tepat untuk menggambarkan sosok KH. Wahab Chasbullah. Meminjam istilah KH. Abdul Wahid Hasyim, KH. Wahab dijuluki sebagai “kyai merdeka”. Sepanjang sejarah perjuangannya, kyai dari Jombang ini memang berjiwa bebas, berpendirian merdeka, tidak mudah terpengaruh lingkungan sekeliling. “Bukan “pak turut” (selalu ikut-ikutan)”, istilah KH. Saifuddin Zuhri. Bahkan sampai cara berbicara, berjalan dan berpakaian pun beliau tidak meniru orang lain. Kyai nyentrik ini mempunyai ciri khas dalam berpakaian, selalu memakai surban. Hingga suatu ketika menurut cerita KH. Saifudin Zuhri saat KH. Wahab berbicara dalam sidang parlemen sebelum naik ke podium beliau terlebih dahulu membetulkan letak serbannya. Pada saat itu ada orang nyeletuk, “Tanpa serban kenapa sih?”. Sambil menunjuk serbannya, KH. Wahab kontan menjawab, “Ini Serban pangeran Diponegoro!, beliau, Kiai Mojo, Imam Bonjol, Teuku Umar semuanya pakai serban”. Mendengar perkataannya seluruh peserta sidang tertawa semuanya sehingga ruangan sidang dipenuhi gelak tawa anggota parlemen. Kiai Penuh Prestasi Prestasi-Prestasi KH. Wahab Chasbullah sangat banyak sekali. Seperti mendirikan kelompok diskusi Tashwirul Afkar tahun 1914, mendirikan pergerakan Nahdlatul Wathan dan Syubbanul Wathan bersama KH. Mas Mansur, memprakarsai pembentukan Komite Hijaz, memprakarsai berdirinya NU. Di bidang jurnalistik, dia merintis majalah Suara Nahdhatul Ulama yang terbit setengah bulan sekali. Beliau memandang, bahwa dengan majalah gagasan-gagasan NU dapat tersebar secara lebih efektif dan efisien. Sebelumnya gagasan NU hanya dijalankan melalui dakwah dari panggung ke panggung dan pengajaran di pesantren. Selain itu beliau bersama dengan tokoh NU lainnya membeli gedung di Jalan Sasak 23 Surabaya sebagai pusat aktivitas NU. Berangkat dari gagasn KH. Wahab di bidang jurnalistik ini kemudian menyusul terbitnya majalah-malajah lain, seperti Suluh Nahdlatul Ulama dipimpin Umar Burhan, Terompet Ansor dipimpin Tamyiz Khudlory dan majalah Penggugah yang berbahasa Jawa dipimpin oleh K. Raden Iskandar yang kemudian digantikan Saifuddin Zuhri. Dari tradisi jurnalistik ini, NU pernah mempunyai jurnalis-jurnalis ternama seperti Asa Bafaqih, Saifuddin Zuhri dan Mahbub Junaidi. KH. Wahab juga dikenal sebagai pengatur strategi perjuangan yang baik dalam kancah politik Islam. Beberapa prestasinya adalah seperti pembentukan MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia), GAPPI (Gabungan Partai Politik Indonesia) dan Masyumi. Lewat pergerakan inilah KH. Wahab terlibat dengan tokoh-tokoh terkemuka, seperti K. Mas Mansur, Dr. Sukiman, Abikusno Cokrosuyoso, Mr. Sartono, Sukarjo Wiryopranoto, Amir Syarifuddin, dsb. Tidak salah lagi, jika KH. Wahab dikategorikan salah seorang yang mempunyai andil terbesar dalam meletakkan dasar-dasar organisasi NU. Hampir di semua sektor beliau menggagas ide-ide yang cemerlang untuk perkembangan NU mulai dari tradisi intelektual, jurnalistik, peletak dasar struktur Syuriah dan Tanfidziyah NU, sampai siasat bertempur di medan laga. Karena beliau mempunyai prinsip, “kalau kita mau keras harus punya keris.” Artinya kalau ingin besar seseorang harus mempunyai kekuatan, baik kekuatan politik, militer maupun batin. Selain prestasi-prestasi yang tersebut di atas perlu dicatat juga dalam diri KH. Wahab adalah keaktifannya dalam gerakan-gerakan melawan penjajah untuk membebaskan negara ini dari kungkungan penjajajah seperti dibuktikannya dalam Laskar Hizbullah pimpinan KH. Zainal Arifin, Laskar Sabilillah pimpinan KH. Masykur dan Barisan Kyai pimpinan beliau sendiri untuk berperang melawan penjajah. Prestasi gemilang lainnya adalah keberhasilannya memperjuangkan kepentingan kaum sunni untuk mendapat perlindungan dan kebebasan di negara Arab Saudi dalam Kongres Dunia Islam di Mekkah. Pada saat itu Raja Saud Arab Saudi melarang berkembangnya faham sunni di negara kekuasaannya. Akan tetapi karena usulan KH. Wahab beserta tokoh-tokoh Islam yang tergabung dalam Komite Hijaz, diantaranya K. Bisri Sansuri, K. Ridwan Semarang, KH. Raden Asnawi Kudus, K. Nawawi Pasuruan, K. Nachrowi Malang dan K. Alwi Abdul Aziz Surabaya akhirnya Raja Saud membebaskan faham sunni hidup dan berkembang di Mekkah. Wafatnya KH. Wahab Chasbullah Sebelum wafat KH. Wahab masih sempat menghadiri Muktamar NU ke-25 di Surabaya dan terpilih sebagai Ro’is ‘Am PBNU. Pun juga masih bisa memberikan suaranya bagi partai NU dalam pemilu tahun 1971. Menurutnya menghadiri Muktamar NU dan memberikan suara pada pemilu adalah bagian dari salah satu perjuangan, karena perjuangan adalah bagian dari ibadah yang harus dilaksanakan. Tetapi empat hari setelah Muktamar NU di Surabaya, kyai yang banyak berjasa terhadap bangsa ini dipanggil kehadirat Allah swt. Beliau wafat pada 29 Desember 1971 di kediamannya yang sederhana di kompleks pesantren Tambakberas, Jombang. Dalam khutbah iftitah terakhir sebagai Rois ‘Am, KH. Wahab mengharapkan supaya NU tetap menemukan arah jalannya dengan selalu menyukuri nikmat yang dikaruniakan Allah swt. sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia dengan melalui cara-cara yang sesuai dengan akhlak Ahlussunnah wal- Jama’ah. Beliau juga mengingatkan agar kaum Nahdliyin kembali pada jiwa Nahdlatul Ulama tahun 1926 atau lebih dikenal dengan khittah NU 1926. Demikianlah sosok KH. Wahab Chasbullah, kyai yang diberkati memperoleh kesempatan hidup dalam tiga zaman, zaman penjajahan, zaman kemerdekaan (orde lama) dan zaman pembangunan (Orde Baru). Maka tak heran jika pengalaman dan sejarah hidupnya selalu dikenang sepanjang masa karena jasanya yang tidak sedikit. Dan masih banyak teladan yang ditinggalkannya untuk dijadikan ibrah bagi generasi penerusnya. Semoga kita bisa meniru dan meneruskan perjuangan-perjuangannya, amiin….





KH. BISRI MUSTOFA – ‘SINGA PODIUM’ YANG PRODUKTIF MENULIS

11 12 2007

Mbah Bisri Mustofa, adalah figur kiai yang alim dan kharismatik. Pendiri pondok pesantren Raudhatut Thalibin Rembang Jawa Tengah ini, dilahirkan di Kampung Sawahan Gang Palen Rembang Jawa Tengah pada tahun 1915.Semula, oleh kedua orang tuanya, H. Zaenal Mustofa dan Chotijah, ia diberi nama Mashadi,ketiga saudaranya yang lain adalah ,Salamah (Aminah), Misbach, dan Ma’shum, Setelah menunaikan ibadah haji pada tahun 1923 , Ia mengganti nama dengan Bisri. Selanjutnya. Ia dikenal dengan nama Bisri Mustofa. Mbah Bisri, belajar dan menekuni ilmu-ilmu agama di pesantren Kasingan Rembang, yang diasuh oleh Kiai Cholil,dipesantren ini, Mbah Bisri muda, menekuni ilmu-ilmu agama ,terutama ilmu nahwu, dengan kitab Alfiah sebagai pegangan utamanya.. Selain di pesantren Kasingan, Mbah Bisri juga mengaji pasanan (pengajian pada bulan puasa) di pesantren Tebuireng Jombang, asuhan KH Hasyim Asy’ari.dan untuk memperdalam ilmunya, Mbah Bisri juga mengaji di kota suci Makah tahun 1936, kepada Kiai Bakir, Syaikh Umar, Syaikh Umar Khamdan al-maghribi, Syaikh Maliki, Sayyid Amin, Syaikh Hasan Masysyath, dan Kiai Muhaimin. Kiai Cholil Kasingan,selain sebagai guru, adalah juga sebagai mertua Mbah Bisri, ia dinikahkan dengan putri Kiai Cholil yang bernama Ma’rufah. Setelah wafatnya Kiai Cholil, Mbah Bisri ikut aktif mengajar di pesantren milik mertuanya tersebut di Kasingan Rembang. Selanjutnya sewaktu pesantren Kasingan bubar, seiring pendudukan Jepang, Mbah Bisri meneruskan pesantren tersebut dengan mendirikan pesantren di Leteh Rembang yang kemudian diberi nama,pesantren Raudhatut Thalibin. Pesantren ini sampai sekarang berkembang sangat pesat.
Sosok Demokratis, Sayang terhadap Putra-Putri, Santri dan Umat
Mbah Bisri beoleh dibilang sosok yang demokratis, sayang terhadap para putra-putrinya, santri dan umat. Dalam mendidik santri-santrinya Mbah Bisri mengedepankan kasih sayang dan kesuriteladanan. Saking cintanya kepada para santri, dalam setiap kali mengisi ceramah, Mbah Bisri selalu memohon kepada Allah SWT seandainya pengajiannya itu mendapat imbalan pahala dari Allah SWT maka sebaiknya pahala itu diganti supaya hati para santri cepat terbuka. Ini merupakan pengakuan Mbah Bisri sendiri sebagaimana kesaksian muridnya KH Wildan Abdulchamid, Ketua MUI Kendal. Mbah Bisri juga sangat dekat dan sayang dengan umat, dari kelas mana saja. Beliau menerima siapa saja yang bertamu ke rumahnya, tak pandang derajat dan pangkatnya. Rumahnya terbuka untuk umum. Beliau juga menghadiri setiap undangan ceramah dari siapa pun. Kecuali jika ada halangan yang benar-benar memaksanya untuk tidak bisa hadir. Terhadap putra-putrinya pun Mbah Bisri juga sangat sayang dan dalam mendidik dikenal cukup demokratis. Sebagaimana pengakuan putra pertamanya, KH.Cholil Bisri (alm), bahwa abahnya tidak pernah memaksakan anak-anaknya harus begini, dan harus begitu. Mbah Bisri tidak pernah memaksakan anaknya dalam hal pendidikan, misalnya, harus urut (teratur dalam jenjang pendidikan). Mbah Bisri juga tidak memaksakan dalam hal menentukan jodoh anak-anaknya. Ia hanya memberikan kriteria-kriteria, yaitu kriteria pasangan yang bisa diajak berjuang. . Sikap demokratis dan tidak mau dipaksa, dan memaksa orang itu, bisa dilihat dari cerita, ketika Mbah Bisri muda, hendak dinikahkan dengan putri Kiai Murtadho, Makam Agung Tuban. Ketika itu, bulan Sya’ban tahun 1934 M, Bisri muda diajak oleh KH Cholil, gurunya di Kasingan Rembang, untuk pergi ke Tuban Jawa Timur. Kepergian tersebut tidak jelas apa tujuan dan mengapa Mbah Bisri muda diajak. Setelah sampai di Jenu, di rumah KH. Chusain, KH Cholil berkata kepada Mbah Bisri muda: “Engkau mau nggak saya akui sebagai anak saya dunia-akhirat?” Tentu saja Mbah Bisri muda menjawab: “Ya mau Syaichuna.” KH Cholil meneruskan : “Kalau begitu Engkau harus patuh kepadaku.” Mbah Bisri muda pun diam sebagai tanda tidak menolak. Kemudian KH Cholil berkata lagi; “Engkau akan saya kawinkan dengan puteri KH Murtadho Makam Agung Tuban. Puterinya itu ayu, manis, dan Bapaknya yaitu KH Murtadho adalah seorang kiai yang alim, beruntung Engkau menjadi menantunya.” Akan tetapi, Mbah Bisri muda memberanikan diri untuk menolak, perintah kawin tersebut. Ia merasa belum pantas untuk menikah, karena ilmu yang ia pelajari masih sangat kurang. KH Cholil kemudian menjawab bahwa justru itu sebabnya Bisri muda akan dikawinkan dengan puteri seorang kiai besar dan alim, agar nantinya ia menjadi orang laim juga. Tanpa diberikan kesempatan membalas bicara, Mbah Bisri muda langsung diajak masuk ke rumah Kiai Murtadho Tuban. Di tempat itu sepertinya sudah dipersiapkan segala hal, untuk menerima tamu KH Cholil dan Bisri muda yang akan melakukan khitbah (pertunangan) kepada puteri Kiai Murtadho. Sesampai di rumah tujuan, Bisri muda merasa beruntung, karena sang puteri yang akan ditunangkan dengannya ternyata lari dan bersembunyi ketika melihatnya. Hal ini yang dijadikan alasan Bisri muda untuk menolak perintah kawin. Tetapi KH Cholil sudah melakukan perundingan dengan KH Murtadho bahwa keputusan mengawinkan Bisri muda dengan puteri KH Murtadho sudah bulat. Telah diputuskan bahwa pada tanggal 7 Syawal tahun 1934 M , Kiai Murtadho akan bertandang ke Rembang bersama puterinya untuk khitbah (tunangan) dan sekaligus dilangsungkan dengan akad nikah. Tanggal 3 Syawal,beberapa hari sebelum kerawuhan KH Murtdlo dan putrinya, Bisri muda ditemani Sdr. Mabrur meninggalkan Rembang tanpa pamit kepada siapapun. Hal ini ia lakukan sebagai bentuk penolakan dari perintah kawin tersebut. ` Keduanya merantau ke Demak, Sayung, Semarang, kaliwungu, Kendal, dengan berbekal uang yang pas-pasan. Setiap keduanya mampir ke tempat teman atau orang tua teman, keduanya mendapat tambahan bekal. Hal ini dilakukan selama satu bulan lebih. Rantauan paling lama beliau tempati adalah daerah kampung Donosari Pegandon Kendal. Setelah sebulan lebih hidup diperantauan,Ia kembali ke Rembang. Bisri muda langsung menghadap KH Cholil dan meminta maaf atas kelakuannya terebut. Dijabatnya tangan KH Cholil, tetapi tidak sepatah kata pun terucap dari mulut KH Cholil. Walau Bisri muda mau pamit kembali, dan menjabat tangan KH Cholil, tetapi sang Kiai masih saja berdiam diri. Seperti biasanya Bisri muda mengikuti kembali pengajian-pengajian di pesantren dan dalam setiap pertemuan itu Bisri muda sama sekali tidak ditanya oleh KH Cholil sebagaimana biasanya. Tahun 1932 M, Bisri muda minta izin kepada KH Cholil untuk meneruskan mondok ke Termas untuk mengaji dengan Kiai Dimyati. Tetapi KH Cholil tidak mengizinkan. Sementara Bisri muda merasa dikucilkan oleh KH Cholil gara-gara tidak mau dinikahkan dengan putri KH Murtadho. “Pengucilan” tersebut, sampai sekitar setahun lebih, dan berakhir dengan berita di luar dugaan. Berita itu adalah, tentang keinginan KH Cholil untuk mengambil Bisri muda sebagai menantunya. Bisri muda akan dijodohkan dengan puteri KH Cholil, yang bernama Ma’rufah. Berita itu ia dapatkan dari ibunya ketika Beliau pulang ke rumahnya di Sawahan. Ibunya menceritakan bahwa KH Cholil telah datang kepadanya dan meminta Bisri untuk dijadikan menantunya. Bisri kemudian mengalami kebingungan mendengar berita tersebut. Akan tetapi setelah melihat bahwa ibu dan seluruh keluarganya termasuk kakaknya H Zuhdi menyetujuinya, maka hati Bisri menjadi mantap dan setuju untuk menikah. Setelah segala sesuatunya dipersiapkan maka tanggal 17 Rajab 1354 H / Juni 1935 dilaksanakan akad nikah antara Bisri dengan Ma’rufah binti KH Cholil. Pada waktu itu Bisri berusia 20 tahun dan Ma’rufah juga berusia 20 tahun. Setelah menjadi menantu KH Cholil, Bisri muda membantu mengajar di pesantren KH Cholil, pesantren dimana Bisri muda menemba ilmu. Pernikahannya ini dikaruniai delapan orang anak, yaitu; Cholil (lahir 1941), Mustofa (lahir 1943), Adieb (lahir 1950), Faridah (lahir 1952), Najichah (lahir 1955), Labib (lahir 1956), Nihayah (lahir 1958) dan Atikah (lahir 1964). Seiring perjalanan waktu, Mbah Bisri kemudian menikah lagi dengan seorang perempuan asal Tegal Jawa Tengah bernama Umi Atiyah. Peristiwa tersebut kira-kira tahun 1967-an. Dalam pernikahan dengan Umi Atiyah tersebut ,Mbah Bisri dikaruniai satu orang putera laki-laki bernama Maemun.

Produktif Menulis
Ditengah kesibukannya mengajar di pesantren, menjadi penceramah, bahkan politisi. Mbah Bisri tetap menyempatkan diri untuk menulis,, dan waktu luangnya, tidak dilewatkannya begitu saja, bahkan di kereta, di bus, di mana saja ,Ia sempatkan untuk menulis. Banyak kitab, baik bertema berat, maupun ringan,lahir sebagai karya tulisnya. Di antara karyanya yang paling terkenal adalah, tafsir Al-Ibriz, yang disusun kembali dari penjelasan pengajian beliau oleh tiga orang santri, yaitu : 1) Munshorif, 2) Maghfur, dan 3). Ahmad Shofwan (sekarang tinggal di Benowo Surabaya) kemudian kitab Al-Usyuthy, terjemahan kitab Imrithy, dan kitab Ausathul Masalik terjemahan kitab Alfiyah Ibnu Malik. Tidak hanya tema-tema yang berat saja yang ditulis oleh Mbah Bisri, tema-tema yang ringan pun ternyata juga Beliau tulis, seperti buku kumpulan anekdot Kasykul, Abu Nawas, novel berbahasa Jawa Qohar lan Sholihah; naskah drama Nabi yusuf lan Siti Zulaikha; Syiiran Ngudi Susilo; dsb. Di luar kitab-kitab dan buku-buku tersebut, masih banyak karya-karya lain yang berhasil ditulisnya. Dalam menulis, Mbah Bisri mempunyai ‘falsafah’ yang menarik. Sebagaimana dikisahkan oleh Gus Mus, salah seorang putra Mbah Bisri, bahwa pernah suatu ketika, beliau berbincang-bincang dengan salah seorang sahabatnya, yakni Kiai Ali Maksum Krapyak, tentang tulis-menulis ini. “Kalau soal kealiman, barangkali saya tidak kalah dari sampeyan, bahkan mungkin saya lebih alim,” kata Kiai Ali Maksum ketika itu, dengan nada kelakar ,seperti biasanya, “tapi mengapa Sampeyan bisa begitu produktif menulis, sementara saya selalu gagal di tengah jalan. Baru separo atau sepertiga, sudah macet tak bisa melanjutkan.”. Dengan gaya khasnya, masih cerita Gus Mus, Mbah Bisri menjawab: “Lha soalnya Sampeyan menulis lillahi ta’ala sih!” Tentu saja jawaban ini mengejutkan Kiai Ali. “Lho Kiai menulis kok tidak lillahi ta’ala; lalu dengan niat apa?” Mbah Bisri menjawab: “Kalau saya, menulis dengan niat nyambut gawe. Etos, saya dalam menulis sama dengan penjahit. Lihatlah penjahit itu, walaupun ada tamu, penjahit tidak akan berhenti menjahit. Dia menemui tamunya sambil terus bekerja, soalnya bila dia berhenti menjahit ,periuknya bisa ngguling,saya juga begitu, kalau belum-belum, sampeyan sudah niat yang mulia-mulia, setan akan mengganggu sampeyan dan pekerjaan sampeyan tak akan selesai..”katan Mbah Bisri..”… Lha nanti kalau tulisan sudah jadi, dan akan diserahkan kepada penerbit, baru kita niati yang mulia-mulia, linasyril ‘ilmi atau apa. Setan perlu kita tipu.” Lanjut Mbah Bisri sambil tertawa. (Gus Mus dalam Taqdim buku Mutiara Pesantren Perjalanan Khidmah KH Bisri Mustofa, LkiS, Jogja, 2005, hlm. xxi-xxii).

Agamawan Moderat
Pemikiran keagamaan Mbah Bisri oleh banyak kalangan dinilai sangat moderat. Sifat moderat Mbah Bisri merupakan sikap yang diambil dengan menggunakan pendekatan ushul fiqh yang mengedepankan kemashlahatan dan kebaikan umat Islam yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi zaman serta masyarakatnya. Pemikiran Mbah Bisri sangat kontekstual. Mbah Bisri Mustofa,adalah seorang ulama Sunni, yang gigih memperjuangkan konsep Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Obsesinya untuk membumikan konsep Ahlus Sunnah Wal Jamaah dibuktikan dengan dibuatnya buku tentang Ahlus Sunnah Wal Jamaah, yang sampai tiga kali revisi, untuk disesuaikan dengan kebutuhan zaman dan masyarakat. Ia juga menyerukan adanya konsep amar ma’ruf nahi munkar yang dimaknai dan didasari oleh solidaritas dan kepedulian sosial. Obsesinya untuk menegakkan amar ma’ruf nahi munkar ini ditunjukkan dengan disejajarkannya konsep tersebut dengan rukun-rukun Islam yang ada lima. Mbah Bisri sering mengatakan bahwa seandainya boleh maka rukun Islam yang ada lima itu ditambah rukun yang keenam yakni amar ma’ruf nahi munkar. Pemikiran-pemikiran Mbah Bisri tersebut biasanya dituangkan dalam tulisan-tulisan.

Menjadi Pejuang Gigih dan Macan Podium
Darah pejuang agaknya sudah kental dalam diri Mbah Bisri. Sejak era penjajahan Belanda, Jepang, era kemerdekaan, sampai akhir hayatnya, Beliau adalah pejuang yang gigih. Setelah Indonesia merdeka, Mbah Bisri sangat bersemangat untuk ikut membangun bangsa ini. Dalam kancah politik beliau disegani oleh semua kalangan. Sebelum NU keluar dari Masyumi, Mbah Bisri merupakan aktivis Masyumi yang gigih berjuang. Akan tetapi setelah NU menyatakan keluar dari Masyumi, Beliau total berjuang untuk NU. Tahun 1955 Mbah Bisri menjadi anggota konstituante, wakil dari Partai NU. Setelah tahun 1959 terbit Dekrit Presiden yang membubarkan Dewan Konstituante dan dibentuknya Majelis Permusyawaratan Rakyat, Mbah Bisri masuk di dalamnya. Mbah Bisri juga dikenal sebagai seorang orator handal, Singa podium. Dalam setiap kampanye beliau selalu menjadi juru kampanye andalan dari partainya. Menurut KH Syaifudin Zuhri, teman seperjuangan di NU, yang mantan Menteri Agama, Mbah Bisri merupakan sosok yang cukup pandai berpidato, dengan mengutarakan hal-hal yang sebenarnya sulit, menjadi gamblang dan mudah diterima oleh orang desa maupun kota, sesuatu yang membosankan, menjadi mengasyikkan, kritik-kritiknya tajam, meluncur begitu saja dengan lancar dan menyegarkan. Pihak yang terkena kritik tidak marah karena disampaikan dengan sopan dan menyenangkan. Selain itu, beliau mampu menghibur dengan humor-humornya yang membuat semua orang tertawa terpingkal-pingkal. Di samping politisi gigih dan singa podium, Mbah Bisri juga dikenal sebagai seorang pelobi dan negosiator yang sangat handal. Pergulatan di dunia politik tetap dijalani Mbah Bisri hingga era pemerintahan orde baru. Ketika semua partai Islam (termasuk NU) harus berfusi ke Partai persatuan Pembangunan (PPP), Mbah Bisri terlibat aktif membesarkan PPP. Beliau menjadi tokoh yang disegani di partai tersebut. Menjelang masa kampanye Pemilu 1977,yang kurang seminggu lagi, tepatnya hari Rabu, 17 Februari 1977 (27 Shafar 1397 H), waktu asar, Mbah Bisri, salah seorang ulama besar umat ini, dipanggil ke haribaan Allah SWT. Mbah Bisri Mustofa wafat di Rumah sakit Dr. Karyadi Semarang karena serangan jantung, tekanan darah tinggi, dan gangguan pada paru-paru. Saat pemakaman Mbah Bisri, masyarakat Rembang dan umumnya Jawa Tengah bahkan juga, dari berbagai pelosok negeri ini, berdatangan dan bertakziah, untuk memberikan penghormatan kepada almaghfurlah. Ratusan ribu pelayat rela berdesak-desakan,untuk menghadiri upacara pemakaman. Tidak jarang yang berebut untuk dapat mencium pipi almaghfurlah,sebagai tanda cinta dan penghormatan . Umat merasakan betul telah ditinggalkan seorang kiai, ulama, pemimpin, sekaligus bapak.serta Singa Podium yang produktip menulis,Karya karyanya akan abadi. Semoga Allah SWT memberi tempat yang mulia kepada Beliau. Dan umatnya yang ditinggalkan bisa mengambil suri tauladan dan meneruskan semangat juang Beliau. Amin.





Kata Mutiara 07

11 12 2007

 untitled.jpg

Cinta sejati

Bila hati gembur dan subur semula………

Benih mahmudah akan tumbuh kembali, Ia kan berdaun
dan gugur berbuah,

Memberi manfaat kepada seluruh alam dan makhluknya.

Ya Allah Ya Tuhan ku

Sesungguhnya engkau amat mengetahui bahawa hati ini telah

dikumpulkan untuk maksud dan tujuan mengingatiMu,

Bertemu dengan tujuan mentaatiMu, Bersatu dengan tujuan menegakkan agamaMu,

Berpadu janji atas pertolongan syariatMu yang suci maka Kau Eratkanlah pertalian
ini,tunjukilah jalannya,

Penuhilah ianya dengan cahaya yang tak pernah padam dan sinarilah ianya dengan
limpahan iman yang sebenarnya kepada Mu,

Hati sudah lama gersang dari siraman kasih syang,

kerana hujan iman sudah lama tidak turun,kita cantumkan kembali budi penyiram
kasih,

Agar hati yang gersang tumbuh dan subur lagi…..








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.